referensi

Posted: December 30, 2010 in Uncategorized

MASAIL FIQHIYA.  Hal. 53 – 66. Prof. Drs. H. Masjfuk Zuhdi

 

Advertisements

Keluarga berencana ( KB ) ialah istilah resmi yang dipakai di dalam lembaga – lembaga Negara kita seperti Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional ( BKKBN ). Istilah KB ini mempunyai arti yang sama dengan istilah yang umu dipakai didunia. KB / family planning berarti pasangan suami istri telah mempunyai perencanaan yang konkrit mengenai kapan anak / anaknya diharapkan lahir agar setiap anaknya lahir disambut degan rasa gembira dan syukur.

Di dalam Al-Quran dan Hadis, yang merupakan sumber pokok hukum islam dan yang menjadi pedoman hidup bagi umat islam, tidak ada yang nas yang sharih yang melarang ataupun yang memerintahkan ber-KB secara eksplisit. Karena itu hukum berKB harus dikembalikan kepada kaidah hukum Islam yang menyatakan :

“ pada dasarnya segala sesuatu/perbuatan itu boleh, kecuali/ehingga ada dalil yang menunjukkan keharaman.”

Selain berpegangan dengan kaidah hukum Islam tersebut diatas, kita juga bisa menemukan beberapa ayat Alquran dan Hadis Nabi yang memberikan indikasi, bahwa pada dasarnya Islam membolehkan orang Islam ber-KB. Bahkan kadang – kadang hukum ber – KB itu bisa berubah dari mubah menjadi sunah, wajib, makruh atau haram. Tetapi hukum mubah ini bisa berubah sesuai dengan situasi dan kondisi individu Muslim yang bersangkutan dan juga memperhatikan perubahan zaman, tempat dan keadaan masyarakat/Negara. Hal ini sesuai dengan kaidah hukum Islam yang berbunyi :

“ hukum – hukum itu bisa berubah sesuai dengan perubahan zaman, tempat, dan keadaan “

Hukum berKB bisa menjadi makruh bagi suami istri yang tidak menghendaki kehamilan si istri, padahal  suami istri tersebut tidak ada hambatan/kelainan untuk mempunyai keturunan. Hukum berKB akan menjadi haram bila orang melaksanakan KB dengan cara yang bertentangan dengan norma agama. Misalnya dengan cara vasektomi dan abortus.

Adapun ayat – ayat yang dapat dijadikan dalil untuk dibenarkan berKB antara lain adalah :

  1. Firman Allah dalam surat An – Nisa ayat 9 :

“ dan hendaklah orang – orang merasa khawatir kalau mereka meninggalkan dibelakang mereka anak cucu yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya. Oleh karena itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan yang benar. ”

Ayat tersebut member petunjuk kepada kita bahwa Allah menghendaki jangan sampai kita meninggalkan keturunan yang kalau kita sudah meninggalkan dunia ini, menjadi umat dan bangsa yang lemah. Dan salah satu usaha agar kita sebagai umat manusia untuk mencapai tujuan pembangunan itu adalah dengan melaksanakan KB.

  1. Firman Allah dalam surat Al – Baqarah ayat 233 :

“ para ibu hendaknya menyusui anak – anaknya selama 2 tahun penuh yaitu bagi orang yang ingin menyempurnakan penyusuannya. Dan ayah berkewajiban member makan dan pakaian kepada ibu dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan kepada anaknya, dan seorang ayah menderita karena anaknya dan ahli waris berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih ( sebelum 2 tahun ) dengan kerelaan dari keduanya dan musyawarah, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa baginya apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

  1. Firman Allah dalam Surat Luqman ayat 14 :

“ dan Kami amanatkan kepada manusia terhadap kedua orang tuanya. Ibunya yang telah mengandung dalam keadaan lemah dan telah menyapihnya dalam 2 tahun. Bersyukurlah kepada Ku dan kepada orang tuamu. kepadaKulah kamu kembali. “

  1. Firman Allah dalam surat Al – Ahqaf ayat 15 :

“ Kami amanatkan / perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibu yang telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkan dengan susah payah pula. Mengandungnya sampai menyapihnya ada 30 bulan, sehingga apabila ia telah dewasa dan umurnya telah mencapai 40 tahun, ia berdoa : Ya Tuhanku, tunjukilah aku mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai. Dan berilah kebahagiaan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku telah tobat kepada – Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri. “

Ayat – ayat tersebut diatas memberi petunjuk kepada kita bahwa kita perlu melaksanakan perencanaan keluarga atas dasar mencapai keseimbangan antara mendapatkan keturunan dengan :

  1. Terpeliharanya kesehatan ibu anak, terjaminnya keselamatan jiwa ibu karena beban jasmani dan rohani selama hamil, melahirkan, menyusui, dan memelihara anak serta timbulnya kejadian – kejadian yang tidak diinginkandalam keluarganya.
  2. Terpeliharanya kesehatan jiwa, kesehatan jasmani dan rohani anak serta tersedia pendidikan bagi anak.
  3. Terjaminnya keselamatan agama orang tua yang dibebani kewajiban mencukupkan kebutuhan hidup keluarga.

Sesuai denga ilmu kesehatan, bahwa selama si ibu menyusui anaknya ia dapat tidak mengalami menstruasi dan ini berarti selama 2 tahun meneteki, ia dapat tidak hamil. Sehingga dengan demikian dapat diambil pengertian dari ayat – ayat tersebut bahwa ibu hendaknya mengatur jarak antara 2 kehamilan/kelahiran minimal selama 30 bulan = 2,5 tahun dan bisa dibulatkan selama 3 tahun. Waktu 2,5 – 3 tahun sebagai jarak antara kehamilan/ kelahiran memang baik menurut ilmu kesehatan. Karena si ibu memang memerlukan waktu tersebut untuk menjaga kesehatannya pada waktu hamil agar kandungannya selamat dan ia perlu menyusui dan merawat bayinya dengan seksama. Kemudian ia perlu merehabilitasi dirinya sendiri.

 

 

Hello world!

Posted: December 12, 2010 in Uncategorized

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!